Betapa bayi itu, begitu damai tidurnya didekap dua guling disisi-sisi tubuh mungilnya. Tenang sekali wajahnya. Beranjak kemasa kanak-kanak, mereka tetap memerlukan sesuatu untuk dipeluk agar tidur mereka nyaman. Mungkin guling, mungkin boneka, mungkin ibunya atau yang lainnya. Begitulah, keberadaan sesuatu untuk dipeluk membuat seseorang merasa aman dan nyaman. Meski guntur menggelegar, petir menyambar-nyambar dan hujan lebat menakutkan hati, keberadaan sesuatu untuk dipeluk selalu membuat nyaman dan aman seseorang.
Aku teringat ketika seorang laki-laki mulia yang baru saja bertemu dengan malaikat itu, pulang dengan ketakutan. Ia meminta diselimuti oleh istrinya. Dan istrinya menyelimutinya sementara ia sendiri berbaring beralaskan paha istrinya dan memeluknya. Pelukan itu membuatnya merasa tenang. Namun rasa tenang itu bersifat relatif, tidak abadi.
Sampai akhirnya ia menemukan keberadaan yang hakiki untuk dipeluk, Keimanan, Allah. Sejak saat ia menemukan keberadaan untuk dipeluk yang hakiki, ia tak pernah lagi merasa ketakutan, kecemasan, kegundahan, dan rasa-rasa lain kegalauan hati. Begitulah, Allah telah menjadi tempat ia memeluk dalam iman. Tempat memeluk yang paling mengamankan, menyamankan.
Kusaksikan ia hidup dalam kondisi mencekam. Tiada hari tanpa cacian, makian. Tiada hari tanpa ancaman, tekanan. Tiada hari tanpa pendiskreditkan dan intimidasi. Aku tak pernah bayangkan, bagaimana seorang anak manusia yang jika kurenungkan, tak beda wujudnya dan potensi yang diberikan Tuhan dengan diriku hari ini, mampu melewati hari-hari mencekam itu selama bertahun-tahun dakwahnya dikota yang dicintainya, namun orang-orang yang berada didalamnya, membencinya. Kau tahu kawan, walau orang-orang itu membencinya, namun ia mencintainya. Jika aku, aku mungkin sudah gila atau sudah pergi ke tempat lain, jika berada ditengah-orang-orang yang tak menghendaki keberadaanku. Tapi tidak dia. Dia tetap dalam titah Tuhannya. Bertahan dalam ketidaknyamanan dan ketidakamanan.
Lama ku merenung apa yang membuatnya dan 1 kesimpulan ku tarik, ia telah MEMELUK sesuatu yang MAHA KUAT lagi MENGUATKAN. Dan ya/ng dipeluknya itu pun memeluknya. Yang dipeluknya bukanlah sesuatu yang berwujud materi ; guling, harta, jabatan, atau wanita. Dan kalian yang membaca, tentunya tahu apa dan siapa dia.
Aku saksikan, ketika malaikat maut menjemputnya. Apa yang telah dipeluknya, membantu ruhnya lepas dari badannya dengan mudah. Seperti gulungan surat yang ditarik dari pipa suratnya. Meski begitu, tetap saja sakit sakaratul maut menderanya. Begitulah, apa yang telah dipeluknya, memudahkan sakaratul mautnya. Pada bagian-bagian tubuhnya, tak ada yang menyangkut dengan ruhnya. Malaikat rahmat itu, nampak senang meski ada gurat sedih ketika harus mencabut manusia m//ulia itu. Malaikat rahmat itu tahu, mencabut ruh manusia ini, akan mencabut sedikit demi sedikit rahmat alam. Karena ia adalah rahmatan lilalamin.
Beruntunglah orang-orang kemudian mengikuti apa yang dipeluknya. Dia telah mencontohkan dan membuktikan bahwa apa yang dipeluknya benar.

Maka mari bertanya tenetang diri-diri kita, apa yang saat ini telah kita peluk ? sudahkankah ia menenangkan hati menentramkan jiwa ?